Selasa, 13 Mei 2008

Cacuk Sudariyanto

Menyebut nama besar Telkom sepertinya tak pantas bila kita tidak ikut menyebut nama Cacuk Sudariyanto. Insinyur lulusan ITB itu tahun 1998 merombak Perumtel yang memiliki banyak masalah. Jumlah karyawan mencapai 46 ribu orang hanya melayani 900 ribu satuan sambungan. BUMN ini hanya mampu membangun 300 ribu sst setiap pelita. Padahal di negara lain pertumbuhannya rata-rata 20-30% per tahun.

Cacuk melihat ada tiga masalah fundamental di BUMN itu. Finansial yang carut marut selama 22 tahun tak pernah mampu memenuhi ststus qualified. Kedua, laporan keuangan terlalu banyak keanehan dan selalu terlambat 3 tahun. Sistem manajemen keuangan yang sentralistik membuat operasional perusahaan dari Sabang sampai Merauke dipertanggungjawabkan oleh Jakarta, dengan kebocoran dimana-mana.

Ketiga adalah struktur kepegawaian yang seperti bawang bombay. Tahun 1998 tak satupun dari 46 ribu karyawannya yang lulusan S2. S3 hanya satu orang, S1 750 orang, D3 240 orang, selebihnya SLTA ke bawah.

Cacuk segera berubah menjadi Change Maker di BUMN Telekomunikasi itu. Accounting structure dirombak total menjadi lebih otonom. Ia pertaruhkan investasi IT untuk mendukung database. Dan dalam waktu tiga tahun, sebanyak 40 wilayah telah memiliki accounting structure sendiri dan PT Telkom meraih status Wajar Tanpa Syarat dari BPKP.

Kualitas SDM ditingkatkan. Karyawan dibantu studinya di dalam maupun luar negeri. Open recruitment karyawan untuk jenjang S1 dijalankan. Bahkan Telkom mendirikan STT Telkom. Hasilnya ketika Cacuk lengser tahun 1992, beberapa karyawan telah meraih jenjang S3, sebanyak 200 orang meraih S2 dan 3.000 karyawan telah bergelar S1.

Berbagai seminar dan training juga diselenggarakan. Setiap minggu Cacuk mengadakan teleconfrence secara terbuka dengan semua kantor cabang. Sehingga setiap kantor cabang bersaing dengan cabang lainnya membenahi Telkom.

Untuk mendorong motivasi karyawan, cacuk menaikkan gaji karyawan sampai 300% dan di slip gaji ditulis " Gaji Anda Dibayar Oleh Pelanggan Anda." Bonus diberikan untuk menghargai jerih payah karyawan yang telah memberikan pelayanan terbaiknya kepada konsumen.

Logo perusahaan diubah dan segala perintang psikologis dikikis habis. Karyawan tak perlu memasang gelar akademiknya dan iklim kompetisi dihidupkan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada karyawan di setiap posisi.

Hasilnya, dalam waktu kurang dari 4 tahun, Telkom telah memiliki 3,5 juta pelanggan dengan kualitas jauh lebih baik. Change Maker ini telah meletakkan dasar-dasar perubahan secara struktural dan kultural dalam tubuh PT Telkom.

Tak ada salahnya kita bercermin...

Tidak ada komentar: