Selasa, 08 April 2008

Awal Langkah

Bertahun-tahun aku selalu berkecimpung di bidang yang sama, teknik. Dari mulai sekolah di STM jurusan Listrik Instalasi sampai aku kerja di berbagai bidang yang semuanya berbau teknik. PLN, Telkom, Service HP, Kursus dan Service Komputer lalu Internet. Segala buku dan sumber pengetahuan aku lahap untuk memenuhi kehausanku akan ilmu. Apalagi aku tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang memadai. Kondisi ekonomi tidak memungkinkan aku bisa duduk di bangku kuliah.

Dengan belajar sendiri aku mampu menguasai banyak hal. Namun terasa sekali kalau semua itu cetek dan dangkal. Aku tak pernah mampu menguasai segalanya sampai detail. Aku belajar hanya mengikuti selera pasar. Saat aku dibutuhkan di bidang grafis, aku belajar CorelDraw. Aku harus menggambar teknik, aku belajar Visio dan Autocad. Aku masuk ke bidang digital imaging, kucari buku-buku Photoshop. Di semua bidang aku selalu begitu. Yang aku miliki hanya sekedar pengalaman dan pengalaman dibantu buku atau ebook.

Aku pun berkali-kali belajar usaha mendiri. Aku menganggap kemampuan teknisku memadai untuk aku mencari uang dari sana. Dan memang aku selalu melejit dengan cepat mengalahkan pesaing-pesaing di bidang yang sama, termasuk yang lebih senior. Kemauan belajarku agaknya merupakan modal nomor satu. Tapi selalu saja usahaku kandas dan berantakan menjelang puncaknya. Aku selalu saja berpikir secara teknis dan matematis dalam segala bidang.

Kelemahan ini yang dimanfaatkan oleh teman-teman bisnisku untuk merebut pasar yang sudah aku kuasai. Pola pikir digitalku yang hanya mengenal kata nol dan satu, off dn on, mati dan menyala, membuat aku kurang peka terhadap serangan analog yang menggunakan strategi remang-remang, antara hidup dan mati. Aku seringkali menganggap temanku mengulurkan kehidupan ketika dia memberikan sesuatu yang samar. Setelah aku tangkap baru aku tahu bila kematianlah yang dia sodorkan.

Setelah semuanya berantakan dan selalu berantakan, tahun 2008 ini aku merasa perlu untuk banting setir ke bidang yang selama ini aku benci, marketing. Kenapa aku benci orang-orang marketing? Buat aku mereka adalah penipu. Orang marketing tak perlu pengetahuan teknis untuk menawarkan produknya. Segala kebaikan dan keburukan selalu mereka katakan bagus dan berkualitas. Ketika ada complain dari customer, masalah itu dilemparkan ke orang teknik. Lempar batu sembunyi tangan demi target pribadi, begitu yang aku pikirkan tentang marketer.

Tapi setelah berkali-kali aku jatuh ke lubang yang sama, aku pikir aku juga perlu belajar menjadi penjahat yang baik hati. Aku simpan dulu otak-otak digitalku dan aku mulai banyak baca buku-buku tentang sistem analog. Bagaimanapun juga dunia ini tak bisa didigitalisasi secara total. Tetap ada sisi yang remang-remang diantara on dan off.

Semoga angsa kecil ini mampu belajar menatap jalan kedepan dan bisa menemukan teman-teman berbagi untuk segera terbang ke langit tinggi.

2 komentar:

Pacul Cicipilah mengatakan...

selamat menempuh hidup baru kang!

semoga sukese!

rain mengatakan...

semangat!