Sabtu, 12 April 2008

Perempuan Sakit Jiwa Itu...

Bukankah perempuan hanya perlu sebuah atau beberapa “Sperma” untuk membuahi “Ovum” untuk dimasukankan ke dalam “Vagina” dan menciptakan generasi keberlanjutkan untuk menciptakan kehidupan di dinding Rahimnya. Hanya perlu mencari Sukarelawan sperma untuk mendapatkan seorang Bayi Mungil untuk teman hidup kita di Masadepan. Kita bisa hidup tanpa laki-laki, tanpa uluran dan belas kasihan para laki-laki, yang kadang sok protectif dan sok “Super Hero”. Perempuan independent dengan dunia ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup, jauh lebih “Super Hero” untuk bisa hidup dan menafkahi anak-anaknya. Bukankah laki-laki tidak pernah benar-benar kuat?? Bukankah perempuan cuma jadi kadal dunia perbudakan?? Perempuan begitu ikhlasnya menyerahkan jiwaraga dalam ikatan pernikahan yang sebenarnya hanya menjadi budak kebiadaban laki-laki??

Potongan email yang saya terima dari seorang teman yang dicopas dari tulisan salah satu teman paling baik saya yang sebenarnya tidak suka menulis. Saya sendiri heran apakah itu benar-benar tulisan dia atau nemu di web lalu copas, dan dibaca oleh teman saya lalu dikirim kesaya. Heeh.. kok kalimatnya njlimet begini ya..?

Ok. Saya tak akan membahas asal tulisan perempuan sakit jiwa itu. Saya hanya ingin mengungkap isi tulisan yang seolah menentang arogansi laki-laki di muka bumi. Tapi saya ingin bertanya dulu, benarkah laki-laki itu arogan secara total? Laki-laki yang mana..?

Justru tulisan itu menurut saya menggambarkan arogansi seorang perempuan (saya hanya menyebut seorang...) yang mungkin sudah melupakan kodratnya. Dengan segala kelebihan yang dia miliki dia merasa bisa dengan mudah menggaet dan mencampakan lawan jenisnya entah untuk tujuan apa. Perlawanan kaum feminis kah, atau hanya pembenaran atas yang segala perbuatan yang dia lakukan?

Sulit untuk menebak apa motivasinya dan saya pun tak ingin mengetahuinya. Mungkin dia perlu baca tulisan saya di salah satu blog tentang arogansi laki-laki yang saya beri judul Keutamaan Perempuan. Dan sebagai pembanding opini saya coba kutip dari tulisan saya di blog tentang Laki-laki dan Perempuan di Toilet.

Perempuan sering mengkritik laki-laki karena dianggap cuek, tidak mau mendengar, kasar, tidak setia, suka selingkuh, tidak bisa memberikan kehangatan dan cinta kasih, hanya menginginkan seks ketimbang cinta dan tak jarang meninggalkan dudukan toilet (toilet seat) dalam keadaan terbuka setelah menggunakannya.

Laki-laki mengkritik perempuan karena cara mereka “menyetir” yang tidak bisa membaca marka atau rambu jalan, hanya membolak-balik peta petunjuk tanpa tahu arah, malah menjerit histeris saat ada pejalan kaki nyelonong bukannya banting stir atau menginjak rem, banyak bicara tapi tanpa “juntrung”, pura-pura pendiam, tidak mau membicarakan seks dan lebih suka dudukan toiletnya dalam keadaan tertutup sampai dia benar-benar siap.

Di lain sisi…
Laki-laki mengagumi cara perempuan berjalan “berlenggak-lenggok” di suatu tempat yang ramai dan kemudian memberikan komentar pada semua orang, tapi perempuan tidak percaya kenapa laki-laki tidak bisa setia. Laki-laki merasa heran kenapa perempuan tidak bisa melihat lampu “indikator oli” menyala merah di dashboard mobil tapi bisa melihat noda kotor di kaos kaki yang berada 50 meter di pojok ruangan.

Perempuan merasa kagum karena laki-laki bisa secara tepat “memarkir mobil” di tempat yang sempit dalam kegelapan sekalipun hanya dengan melihat spion dan naluri, tapi anehnya mereka tidak pernah bisa menemukan titik G Spot yang hanya beberapa sentimeter dari ambang pintu.

Dalam bukunya Allan and Barbara Pease yang berjudul Sillyman from Mars, Pitywoman from Venus. Mengungkapkan “Mengapa pria tampak bodoh dan mengapa wanita seolah harus dikasihani”. Buku itu senada dengan pola pikir saya tentang makhluk bernama perempuan itu termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Makanya saya tak habis pikir mengapa sampai ada perempuan yang punya pikiran sekeras itu. Lebih kejam lagi bila mengingat tulisan itu muncul setelah didahului oleh tindakan-tindakannya yang abnormal terhadap laki-laki.

Saya cuma bisa berdoa kalau memang Yang Di Atas Sana masih berkenan mendengar pinta saya. Sembuhkan perempuan sakit jiwa itu sebelum pemikiran itu merusak sesuatu yang sebenarnya milik saya yang paling berharga.

Semoga...

1 komentar:

Pacul Cicipilah mengatakan...

wis ora usah dibahas.....Selamat menempuh hidup baru baen lah!