Selasa, 08 April 2008

Pelarianku

Sejak aku berpikir untuk banting setir, aku mulai belajar tentang marketing dan manajemen yang sesungguhnya. Beberapa kali sku mencoba menerapkan apa yang aku pelajari, tapi hasilnya nihil. Sepertinya semua yang ada di sekitarku sudah telanjur terperangkap oleh sebuah image bahwa aku adalah robot digital yang selamanya digital. Sekuat tenaga aku merubah image itu, sekuat itu pula aku merasakan kegagalanku. Keputus asan mulai menyergap dalam benakku melihat kenyataan yang teramat sulit untuk berubah. Padahal aku baca dalam bukunya Renald Kasali, modal paling awal saat kita sudah tersesat jauh adalah, Change!!! Berubah. Tapi bagaimana aku bisa berubah bila sekelilingku tetap memaksa aku untuk tetap di jalur itu.

Aku ingat kisah tentang Rasulullah SAW yang terus menerus didesak oleh Kaum Quraisy hingga sulit sekali untuk bisa hidup dan berkembang dengan damai. Beliau memutuskan untuk hijrah ke Madinah, mencari kehidupan baru di alam yang baru.

Terinspirasi kisah junjunganku itu, aku putuskan untuk hijrah. Aku tinggalkan semua yang aku miliki disini. Berat dan menyakitkan kehilangan segala yang pernah menemaniku selama hampir separuh hidupku. Aku harus siap menjadi sebatangkara di belantara asing. Aku pergi ke Jokja hanya berbekal sebuah tas ransel butut tanpa dukungan moral atau material memadai. Hanya sebuah tekad untuk berubah, itu saja.

Ya… Jokja yang aku tuju. Sebuah kota yang masih asing buat aku. Hanya aku kenal dari teman-teman atau cerita di buku atau tivi. Pertimbanganku ke Jokja adalah statusnya sebagai kota pendidikan. Aku berharap bisa belajar disana karena tak mungkin aku ke negeri China.

Harapanku mulai bisa terlaksana. Aku temukan teman-teman berpendidikan tinggi yang low profile dan bersedia berbagi isi kepalanya. Buku-buku bermutu dengan harga murah pun banyak sekali aku temukan di loakan. Buku karya Ippo Santosa, Hermawan Kartajaya, Rhenald Kasali dan MQ Corporation menjadi rujukanku. Warnet bertarif murah yang bertebaran disana mendukung sekali kehausanku akan ilmu.

Disaat kehausanku belum juga hilang, aku mendapat tawaran ke Jakarta. Ilmuku yang masih teramat dangkal harus langsung diuji dengan mengelola sebuah webstore. Sebuah bidang yang sama sekali baru buat aku. Memasarkan produk secara offline pun aku belum begitu lihai berkelit disaat menemukan tawaran samar, sekarang aku harus memasarkan produk ke konsumen yang tak pernah bisa aku temui secara fisik. Berat dan teramat berat memang. Berbagai cara aku coba, berkali pula aku gagal. Tapi aku harus terus mencoba cara yang lain karena aku sudah tetap bertekad untuk bisa Change!!!

Akankah aku bisa berubah..?

1 komentar:

Pacul Cicipilah mengatakan...

bisaaaaaaa!...juraganmu bae bisa kang